Minggu, 08 Mei 2011

KENAPA HARUS PACARAN


Kenapa harus Pacaran???
 Siapa sih yang gak tahu pacaran? Hari gini !!! Bahkan anak-anak SD pun sudah mulai mengerti pacaran entah itu hanya sekedar tahu istilah pacaran maupun benar-benar tahu pacaran itu sendiri. Dan memang ini bisa dipahami (tapi bukan untuk dimaklumi) ketika anak-anak setingkat SD pun sudah tahu tentang pacaran.
Media-media informasi seperti televisi, majalah remaja dan masih ada lagi yang lain begitu gencarnya menyajikan tayangan-tayangan dan bahasan-bahasan mengenai hal yang satu ini. Dan entah mengapa tayangan-tayangan dan bahasan-bahasan tentang pacaran selalu menjadi topik yang menarik dan diminati masyarakat. Ini bisa dilihat dari banyaknya tayangan yang bertema pacaran. Kita gak bisa dong cuma nyalahin pembuat filmnya aja, karena klo masyarakat gak antusias maka film kayak gitu gak laku dan pastinya gak banyak diproduksi. Begitulah keadaan kebanyakan generasi muda kita.
Diantara berbagai kerusakan di segala segi kehidupan, kerusakan akibat tayangan televisi berbau pacaran mungkin bisa dikategorikan bencana besar ( bisa jadi kalau ada 10 besar bencana berbahaya, tayangan berbau pacaran bisa masuk tuh secara dampaknya sungguh merusak ).

Kebanyakan remaja mungkin tak sadar dan tak menelaah lebih lanjut kenapa dia pacaran atau pengen pacaran. Sebagian hanya ikut-ikutan temannya, kalau yang lain punya pacar maka harus punya pacar. Seakan pacaran itu wajib dan gak punya pacar itu dosa, padahal kan yang bener malah sebaliknya. Terlebih lagi banyaknya omongan yang bernada mengejek seperti
” Hari gini gak punya pacar? Normal gak sih loe?!!!”

Atau yang paling memprihatinkan justru jika ada orangtua yang mendukung dan mengharuskan anaknya pacaran. Bisa dilihat dari pertanyaan seperti
” Mbak dah punya pacar belum? Kok ibu gak pernah liat temen cowok mbak main ke sini. Kapan-kapan diajak kesini ya.biar ibu bisa mengenalnya.”

Atau ada juga yang terkesan membatasi tapi ujung-ujungnya sama saja.
” Untuk sekarang mbak fokus sekolah dulu. Besok kalau dah kuliah baru ibu ngijinin mbak punya pacar.”
Dan hal-hal diatas bukanlah dilebih-lebihkan tetapi memang ada kenyataan seperti itu. Dan ini menjadi keprihatinan kita bersama. Bagaimana orangtua yang seharusnya melindungi dan menjaga anak-anaknya justru malah menjerumuskan anak-anaknya ke lembah hitam bernama pacaran.
Mungkin banyak diantara para remaja belum mengetahui bahwa pacaran itu ternyata banyak negatifnya dilihat dari berbagai segi. Atau sudah tahu tapi tidak menganggap itu sebagai dampak buruk. Disini akan dibahas sedikit mengenai dampak buruk pacaran bagi pelakunya.

1.Memboroskan waktu, uang dan pikiran
Dampak yang bisa dilihat langsung dan dirasakan adalah terbuangnya banyak waktu,uang dan pikiran secara sia-sia. Bagaimana tidak, orang yang punya pacar akan berusaha untuk selalu bersama pacarnya, setidaknya meluangkan waktu untuk lebih banyak bertemu dan bersama. Akibatnya dia tak punya waktu untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Selain itu kalau dia laki-laki juga harus rela untuk antar jemput sang pacar (sampai ini harusnya laki-laki tahu kalo dia cuma dimanfaatin sebagai tukang ojek saja, tapi anehnya kok ya mau-mau aja). Kalaupun memang jarang bisa bertemu dan barengan maka komunikasi lewat telpon. Mereka akan rela mengabiskan pulsa berpuluh2 ribu bahkan beratus2 ribu hanya untuk kegiatan yang satu ini.Belum lagi kalau harus jalan-jalan malem minguan, uang yang dihabiskan akan lebih banyak lagi. Ulangtahun beliin kado, membuat acara yang surprise pas valentine dan banyak lagi.
Selain itu pikiran kita juga tersita. Pelajaran gak masuk ke otak, bawaanya mikirin pacar. Akibatnya pikiran tidak berkembang, hanya stagnan (diam tak bergerak). Bisa -bisa menjadi biang kebodohan. Dan yang lebih mengHEBOHkan setelah semua ini hasilnya GAK PASTI. Kok bisa? Kita lihat saja dalam dunia orang pacaran, berapa sih yang bisa bertahan lama. Apalagi sekarang, gampang gonta-ganti pacar. Berarti apa yang dilakukan sebegitu banyaknya hanya untuk mendapatkan hasil yang GAK PASTI. Nah yang pasti adalah KEKECEWAAN, Daftar panjang nama-nama mantan pacar dan satu lagi nambah daftar jadi BEKAS orang Lain. Lainnya GAK ADA. Kalau kita mau berpikir maka MAUkah kita mengorbankan banyak hal untuk sesuatu yang NOL. Berkorban sebesar-besarnya untuk medapatkan hasil yang NOL. Inilah prinsip Pacaran, bertolak belakang dengan prinsip ekonomi konvensional.

2.Hidup jadi gelisah (cemburu, rindu, patah hati)
Mungkin dari point pertama akan muncul sanggahan.
“Lho aku malah lebih tenang dengan punya pacar. Karena aku sudah gak perlu lagi mikir untuk mencari lagi.Dan tiap hari ada yang memperhatikan. Bukankah itu menyenangkan dan menentramkan?” Yakiiiiin kayak gitu?
Disatu sisi memang bisa dikatakan hampir benar, namun disisi lain justru menghilangkan ketenangan dan ketentraman seperti yang dibilang. Pernah CEMBURU? Pernah Merasakan RINDU? Setiap orang tahu bahwa yang pernah merasakan cinta (baik yang pacaran maupun tidak) pasti pernah merasakan cemburu dan rindu. Namun dampak negatif muncul terhadap orang2 yang punya pacar. Setiap saat dia dilanda rindu, selalu ingin bertemu. Ujung2nya jadi melamun (wah perlu hati-hati, melamun bisa menyebabkan kesurupan). Kalau sudah begini susah obatnya kecuali dengan bertemu.
Seorang penyair mengatakan:” obat dari kerinduan adalah dengan pertemuan.”
Yang kedua adalah Cemburu. Cemburu itu lebih panas dari api yang membakar, lebih gemuruh daripada angin topan. Cemburu akan membawa seseorang kepada pikiran dan tindakan buruk. Bawaannya selalu curiga.
Yang ketiga adalah PATAH HATI. Bagi para petualang cinta (katanya demikian), patah hati merupakan menu rutin dan makanan favorit. Mereka telah mengalami banyak momen patah hati. Tapi seberapapun banyaknya, setiap patah hati pasti menyisakan penderitaan yang panjang. Apalagi remaja saat ini, dengan patah hati maka segala hubungan terputus, akibatnya mengurangi daftar teman. Sudah RUGI berkorban banyak, ditambah HILANGnya teman.

3.Jadi suka berprasangka buruk
Orang yang pacaran berpotensi lebih besar untuk berprasangka buruk.Baik terhadap teman-temannya terutama seseorang yang jadi pacarnya maupun orang yang bahkan gak dikenal yang dekat dengan pacarnya. Dia sering berpikiran jangan-jangan pacarnya juga baik sama orang lain dan takut kalau diputus. Padahal pada kenyataannya juga biasa-biasa saja. Tapi itulah yang sering terjadi. Sungguh ini akan menyiksa diri sendiri dan merusakkan pikiran.

4.Pergaulan menjadi sempit
Dengan adanya prasangka-prasangka dan pikiran2 buruk maka orang yang berpacaran senantiasa terbatasi pergaulannya. Kalau mau berteman dengan si A atau si B atau siapapun harus seijin dan sepengetahuan sang pacar. Akibatnya pergaulan menjadi sempit, karena terbatasi dan keadaan yang lebih buruk jika justru orang takut berkenalan dengan dia hanya karena takut dimarahi pacarnya.
Kalau dipikir-pikir, emangnya pacar itu seberapa besar sih hak terhadap seseorang? Bukankah gak ada haknya sama sekali.Terus kenapa harus dilarang kalau mau berteman dengan banyak orang (kalo teman beda gender emang gak usah banyak-banyak). lha wong orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan (otomatis punya hak lebih besar terhadap seseorang) aja membolehkan banyak berteman, bahkan ada yang menyuruh untuk banyak teman. Kok berani-beraninya orang yang gak punya hak sama sekali mengatur hidup kita. Bukankah dengan banyak teman akan terbuka banyak peluang dan kesempatan? Lantas kenapa justru sebagian besar remaja merelakan banyak kesempatan dan peluang itu berlalu begitu saja HANYA Demi seseorang yang belum tentu BERMANFAAT bagi diri mereka sendiri ( kecuali manfaat yang sebentar, yang itupun sebenarnya hampir gak ada sama sekali ).

5.Aktivitas menjadi terbatas
Dikarenakan jumlah teman sedikit maka aktivitas pun sedikit. Atau malah ada yang berani mengatur kegiatan sang pacar. Hanya boleh ikut kegiatan ZZZ dan VVV tapi kegiatan lainnya gak boleh. Sekali lagi apa hak pacar melarang seseorang beraktivitas. Makanya gak salah bila PACARAN bisa disebut PENGHAMBAT PENGEMBANGAN KREATIVITAS. Padahal banyak aktivitas akan membuat pikiran kita berkembang, anti stress dan menambah pengalaman dan kawan. Relakah kita terkungkung oleh seorang pacar yang notabenenya BUKAN SIAPA-SIAPA?

6.Menyakiti orangtua dan keluarga
Orang yang berpacaran akan menghabiskan banyak waktu dengan pacarnya, terlebih momen-momen liburan. Tahukah kamu bahwa sebenarnya orangtua pun menginginkan kebersamaan dengan anaknya? Entah dengan piknik bareng, bekerja di kebun bareng, membuat kerajinan atau yang lain-lain. Namun disisi lain kita malah menghabiskan waktu dengan orang lain. Tak jarang orangtua menjadi sedih dan merasa dianggap tidak penting. Tapi kalau tideak mau pergi bersama pacar nanti pacar marah.
Coba kalau ditanya balik kepada para remaja yang berpacaran, lebih berdosa mana membuat orang tua sedih dan marah atau membuat pacar marah (yang nota bene BUKAN SIAPA-SIAPA)? Bagaimanapun juga akal sehat akan lebih memilih untuk tidak membuat orangtua sedih dan marah. Namun terkadang setan lebih lihai dalam menjerumuskan manusia.

7.Merusak kesucian diri
Yang terakhir adalah merusak kesucian diri. Kesucian ini jangan diartikan dengan tidak melakukan hubungan terlarang, namun lebih luas kesucian itu menyangkut apakah diri kita sudah pernah ternoda dengan perasaan-perasaan yang pernah muncul, apalagi yang pernah jalan-jalan bareng pasti lebih merasakan kalau sebenarnya ternoda. Keadaan ini tidak akan terasa jika masih pacaran namun setelah nanti ketika masa akan menikah.
Secara jujur kalau ditanyakan kepada seseorang ingin memiliki istri/suami yang sudah pernah pacaran atau belum, maka bisa dijamin bahwa sebagian besar (atau malah semua) ingin yang belum pernah pacaran. So apakah kita ingin sesuatu yang suci sementara diri kita telah ternoda. Kalau bisa ya bersyukur banget, tapi kemungkinan itu sangat kecil kecuali bila kita telah bertobat.
Sebenarnya masih banyak lagi akibat-akibat buruk dari pacaran. Dengan beragam keburukan itu masih pantaskah dijadikan pilihan? Selamatkan hatimu, selamatkan dirimu dan selamatkan agamamu dengan TIDAK PACARAN.
Lalu ada lagi yang namanya pacaran islami yang katanya solusi dari pacaran yang sudah umum yang sangat merusak. Tapi pada kenyataannya gak ada tuh yang namanya pacaran islami yang katanya lebih menyelamatkan, sesuai syar’i. Ini hanya akal-akalan orang yang pengen pacaran tapi gak pengen disebut berbuat maksiat. Karena kriteria pacaran islami pun (yang pernah saya tahu) gak jauh-jauh amat dari pacaran pada umumnya.Kenapa masyarakat begitu mudahnya berlepas diri dari dosa hanya dengan menambahi embel-embel islami dibelakang aktivitas maksiat. Padahal kalau esensinya dosa ya bagaimanapun tetap dosa.
Mari jaga diri kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita dan lingkungan kita supaya tidak rusak oleh kegiatan yang namanya PACARAN.     SAY NO TO DATING

Sumber  : dari berbagai sumber

2 komentar:

  1. BTW yg nulis punya pacar ga nih ? wkwkwkw

    BalasHapus
  2. wah...
    kalau saya ga' punya pacar dan ga' pengen punya pacar, pacarannya nati aja setelah menikah...
    wkwkwkwkwkwk.......

    BalasHapus